Radiology

Radiology
Kota Radiasi

Selasa, 26 Februari 2013

Pemahaman radiologi di masyarakat

Pemahaman radiologi di masyarakat


         Banyak masayarakat yang awam mngenai radiologi, banyak yang mengetahui radiologi hanya dengan sekilas kesimpulan bahwa radiologi berarti BAHAYA... karena ada radiasi .
Radiasi memang memiliki resiko, namun apa boleh buat bagi anda yang semisal kena penyakit paru-paru maka untuk membantu dalam menegakan suatu diagnosa maka perlu dilakukan ronsen/roentgn. oleh karena itu bahwa radiasi juga bermanfaat bagi keshatan, dan banyak orang yang menanyakan apakah setelah di ronsen saya malah jadi sakit dan menyebabkan kanker.dalam ksempatan ini saya ingin menyampaikan bahwa setiap pemeriksaan radiologi jangan lah takut, karena asas yang dipakai setiap pemeriksaan radiologi adalah bahwa manfaat yang diperoleh lebih besar dari pada bahaya yang akan timbul, dan setiap pemeriksaan petugas radiologi sudah memiliki prinsip dalam proteksi radiasi terhadap pasieen.






Sabtu, 23 Februari 2013

Radiology



Rontgen Konvensional


 Thorax

Thorax
 
 Thorax Lat

 Clavicula Ap

Wrist Joint

 Antebrachi Ap/Lat

 Manus LAt

 Lumbosacral Ap/Lat

 Sacrum LAt

 Sacrum Ap

 Cervical Ap

  Cervical LAt

  Cervical Oblique R/L

 Angkle Joint Ap/Lat

 Calcanius Ap

 Cruris Ap

Cruris Lat

 Femur Ap

Femur Lat

Hip Joint
 
 
Pedis Ap
 
Pedis Obliquie

Genu Ap/Lat




 Rs. Holistic 
 PURWAKARTA  
 

Rabu, 20 Februari 2013

Teknik Pemeriksaan Sinus ParanasalPada Pasien Suspect Sinusitis Pada Sinus Maxilaris

Teknik Pemeriksaan Sinus ParanasalPada Pasien  Suspect Sinusitis Pada Sinus Maxilaris

PENGERTIAN

  • Sinus, adalah rongga berisi udara yang terletak pada tulang frontal, ethmoidal, sphenoidal dari tulang tengkorak serta tulang maxila dari tulang wajah
  • Sinusitis, adalah inflamasi atau peradangan pada mukosa sinus paranasal, dimana mukosa tampak oedema (bengkak) dan adanya bendungan.
  • Teknik Radiografi SPN, adalah suatu teknik pemeriksaan radiografi menggunakan sinar-x untuk memperlihatkan bagian-bagian atau struktur dari sinus.

ANATOMI SINUS PARANASAL


SPN ada 4 :
1. Sinus Frontal
2. Sinus Etmoidal
3. Sinus Sfenoidal
4. Sinus Maksilaris

TEKNIK RADIOGRAFI SINUS PARANASAL

Teknik radiografi sinus paranasal yang rutin digunakan untuk kasus sinusitis pada sinus maksilaris ada 2:
1. Proyeksi Parietoacantial (Water’s Method)
POSISI PASIEN : Pasien duduk menghadap bucky stand, kedua tangan berpegangan dibucky
POSISI OBJEK :
  • MSP kepala harus perpendicular terhadap kaset;
  • Aturlah kepala (ekstensikan) sehingga MML tegak lurus terhadap kaset
  • OML membentuk sudut 37 derajat terhadap kaset
  • Dagu diletakkan pada kaset, dan accantion berada dipertengahan kaset
CENTRAL POINT : pada Parietooccipital menembus Accantion
CENTRAL RAY : perpendicular kaset. dengan FFD 100 cm
KRITERIA GAMBARAN :
  • Sinus Maxilaris dan Fossa Nasalis tampak
  • Orbita dan sinus maxilaris simetris
  • Jarak antara batas lateral tengkorak dan batas lateral orbita sama
  • Petrous bagian inferior terproyeksi dibawah sinus maxilaris
  • Tampak marker R/L
  • Kolimasinya sesuai dengan objek yang diperiksa
NOTE :
  • Jangan lupa memakai grid agar kontrasnya bagus
  • Jangan lupa memberi marker
  • Pemeriksaan dilakukan dengan cepat karena pasien akan merasa lelah
  • Pasien tahan nafas saat eksposi
GAMBARAN RADIOGRAFI

Gambar 1. Proyeksi parietoaccantial (Waters) dari Sinus Paransal (Source : http://www.wikiradiography.com)
2. Proyeksi Lateral
POSISI PASIEN :
  • Pasien duduk menghadap bucky stand, kedua tangan berpegangan dibucky
  • Kemudian Oblique kan badan untuk kenyamanan pasien dan kepala pada posisi lateral menempel ke kaset
POSISI OBJEK :
  • MSP kepala harus sejajar terhadap kaset;
  • Aturlah dagu supaya IOML sejajar dengan bidang film
  • IPL tegak lurus bidang film
CENTRAL POINT : 2,5 cm posterior outer chantus (letakkan dipertengahan film)
CENTRAL RAY : perpendicular kaset. dengan FFD 100 cm
KRITERIA GAMBARAN :
  • Tampak proyeksi Lateral dari sinus paranasal
  • sella tursica tanpa rotasi
  • marker harus tampak
  • tergambarnya semua sinus terutama sinus sfenoid
NOTE :
  • Jangan lupa memakai grid agar kontrasnya bagus
  • Jangan lupa memberi marker
  • Pemeriksaan dilakukan dengan cepat karena pasien akan merasa lelah
  • Pasien tahan nafas saat eksposi
GAMBARAN RADIOGRAFI :
Gambar 2. Proyeksi Lateral dari Sinus Paransal (Source :

Rabu, 13 Februari 2013

Kontaminasi radioaktif

 Kontaminasi radioaktif

Kontaminasi radioaktif, juga disebut kontaminasi radiologis, adalah zat radioaktif di permukaan atau di antara benda padat, cair atau gas (termasuk tubuh manusia), tempat keberadaan mereka tidak diinginkan atau tidak diperlukan, atau proses yang membawa keberadaan mereka di tempat-tempat seperti itu.
Juga digunakan agak kurang formal untuk menyebut kuantitas dan aktivitas di permukaan (atau di wilayah permukaan).
Kontaminasi tidak meliputi residu bahan radioaktif yang tersisa di sebuah tempat setelah dekomisi secara penuh.
Istilah kontaminasi radioaktif memiliki konotasi yang tidak diinginkan.
Istilah kontaminasi radioaktif hanya merujuk pada keberadaan radioaktivitas dan tidak memberikan indikasi tingkat bahaya yang diperlukan.

Manfaat dan Bahaya Zat Radioaktif pada Berbagai Aspek Kehidupan Sehari-hari

Radioaktifitas adalah sifat suatu unsur yang dapat memancarkan radiasi (pancaran sinar) secara spontan. Tergolong ke dalam zat radioaktif, unsur tersebut biasanya bersifat labil, berarti tergolong zat radioaktif adalah isotopnya, karena untuk mencapai kestabilan salah satunya harus melakukan peluruhan. Peluruhan zat radioaktif untuk menghasilkan unsur yang lebih stabil sambil memancarkan partikel seperti, partikel alpha α (sama dengan inti 4He), partikel beta (β), dan partikel gamma (γ).


Ciri lain dari zat radioaktif  adalah bahwa setiap zat yang memancarkan radiasi pengion dengan aktivitas jenis lebih besar daripada 70 kBq/kg atau 2 nCi/g (tujuh puluh kilobecquerel per kilogram atau dua nanocurie per gram). Angka 70 kBq/kg (2 nCi/g) tersebut merupakan patokan dasar untuk suatu zat dapat disebut zat radioaktif pada umum-nya yang ditetapkan berdasarkan ketentuan dari Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency). Namun, masih terdapat beberapa zat yang walaupun mempunyai aktivitas jenis lebih rendah daripada batas itu dapat dianggap sebagai zat radioaktif karena tidak mungkin ditentukan batas yang sama bagi semua zat mengingat sifat masing-masing zat tersebut berbeda. Berikut manfaat dan bahaya zat radio aktif pada kehidupan sehari-hari.

Secara garis besar manfaat dari  Zat Radioaktif diuraikan di bawah ini, antara lain :
1. Sebagai Perunut dan 2. Sebagai Sumber Radiasi

A. Bidang Kedokteran
Penggunaan radioaktif untuk kesehatan sudah sangat banyak, dan sudah berapa juta orang di dunia yang terselamatkan karena pemanfaatan radioaktif ini. Sebagai contoh sinar X untuk penghancur tumor atau untuk foto tulang. Berdasarkan radiasinya:

1)  Sterilisasi radiasi. 
Radiasi dalam dosis tertentu dapat mematikan mikroorganisme sehingga dapat digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran. Steritisasi dengan cara radiasi mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan sterilisasi konvensional (menggunakan bahan kimia), yaitu:
a) Sterilisasi radiasi lebihsempurna dalam mematikan mikroorganisme.
b) Sterilisasi radiasi tidak meninggalkan residu bahan kimia.
c) Karena dikemas dulu baru disetrilkan maka alat tersebut tidak mungkin tercemar bakteri lagi  
    sampai kemasan terbuka. Berbeda dengan cara konvensional, yaitu disterilkan dulu baru
    dikemas, maka dalam proses pengemasan masih ada kemungkinan terkena bibit penyakit.

2)  Terapi tumor atau kanker.
Berbagai jenis tumor atau kanker dapat diterapi dengan radiasi. Sebenarnya, baik sel normal maupun sel kanker dapat dirusak oleh radiasi tetapi sel kanker atau tumor ternyata lebih sensitif (lebih mudah rusak). Oleh karena itu, sel kanker atau tumor dapat dimatikan dengan mengarahkan radiasi secara tepat pada sel-sel kanker tersebut.

3)  Penentuan Kerapatan Tulang Dengan Bone Densitometer
Pengukuran kerapatan tulang dilakukan dengan cara menyinari tulang dengan radiasi gamma atau sinar-X. Berdasarkan banyaknya radiasi gamma atau sinar-X yang diserap oleh tulang yang diperiksa maka dapat ditentukan konsentrasi mineral kalsium dalam tulang. Perhitungan tersebut dilakukan oleh komputer yang dipasang pada suatu alat dengan nama bone densitometer. Teknik ini sangat bermanfaat guna membantu mendiagnosis pada kekeroposan tulang (osteoporosis) yang sering menyerang wanita pada usia menopause (mati haid).

4)  Three Dimensional Conformal Radiotheraphy (3d-Crt)
Terapi radiasi dengan menggunakan sumber radiasi tertutup atau pesawat pembangkit radiasi telah lama dikenal untuk pengobatan penyakit kanker. Perkembangan teknik elektronika maju dan peralatan komputer canggih dalam dua dekade ini telah membawa perkembangan pesat dalam teknologi radioterapi. Dengan menggunakan pesawat pemercepat partikel generasi terakhir telah dimungkinkan untuk melakukan radioterapi kanker dengan sangat presisi dan tingkat keselamatan yang tinggi melalui kemampuannya yang sangat selektif untuk membatasi bentuk jaringan tumor yang akan dikenai radiasi, memformulasikan serta memberikan paparan radiasi dengan dosis yang tepat pada target. Dengan memanfaatkan teknologi 3D-CRT ini sejak tahun 1985 telah berkembang metoda pembedahan dengan menggunakan radiasi pengion sebagai pisau bedahnya (gamma knife). Dengan teknik ini kasus-kasus tumor ganas yang sulit dijangkau dengan pisau bedah konvensional menjadi dapat diatasi dengan baik oleh pisau gamma ini, bahkan tanpa perlu membuka kulit pasien dan yang terpenting tanpa merusak jaringan di luar target.

 5) Teknik Pengaktivan Neutron
Teknik nuklir ini dapat digunakan untuk menentukan kandungan mineral tubuh terutama untuk unsur-unsur yang terdapat dalam tubuh dengan jumlah yang sangat kecil (Co, Cr, F, Fe, Mn, Se, Si, V, Zn dsb) sehingga sulit ditentukan dengan metoda konvensional. Kelebihan teknik ini terletak pada sifatnya yang tidak merusak dan kepekaannya sangat tinggi. Di sini contoh bahan biologik yang akan diperiksa ditembaki dengan neutron.
          Penggunaan radioaktif dalam bidang kedokteran terutama untuk pendeteksian jenis kelainan di dalam tubuh dan untuk penyembuhan kanker yang sangat sukar dioperasi menggunakan metode lama. Prinsip radioaktif ini juga dimanfaatkan untuk pengetesan kualitas bahan di dalam suatu industri yang dapat dipergunakan dengan mudah dan dengan ketelitian yang tinggi. Radioisotop yang digunakan dalam bidang kedokteran dapat berupa sumber terbuka (unsealed source) dan sumber tertup (sealed source). Ketika radioisotop tersebut tidak dapat dipergunakan lagi, maka sumber zat radioaktif bekas tersebut sudah menjadi limbah radioaktif.
            Dalam bidang kedokteran, radiografi digunakan untuk mengetahui bagian dalam dari organ tubuh seperti tulang, paru-paru dan jantung. Dalam radiografi dengan menggunakan film sinar-x, maka obyek yang diamati sering tertutup oleh jaringan struktur lainnya, sehingga didapatkan pola gambar bayangan yang didominasi
oleh struktur jaringan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membingungkan para dokter untuk mendiagnosa organ tubuh tersebut. Untuk mengatasi hal ini maka dikembangkan teknologi yang lebih canggih yaitu CT-Scanner.
            Radioisotop Teknesium-99m (Tc-99m) merupakan radioisotop primadona yang mendekati ideal untuk mencari jejak di dalam tubuh. Hal ini dikarenakan radioisotop ini memiliki waktu paro yang pendek sekitar 6 jam sehingga intensitas radiasi yang dipancarkannya berkurang secara cepat setelah selesai digunakan. Radioisotop ini merupakan pemancar gamma murni dari jenis peluruhan electron capture dan tidak memancarkan radiasi partikel bermuatan sehingga dampak terhadap tubuh sangat kecil. Selain itu, radioisotop ini mudah diperoleh dalam bentuk carrier free (bebas pengemban) dari radioisotop molibdenum-99 (Mo-99) dan dapat membentuk ikatan dengan senyawa-senyawa organik. Radioisotop ini dimasukkan ke dalam tubuh setelah diikatkan dengan senyawa tertentu melalui reaksi penandaan (labelling). 
            Di dalam tubuh, radioisotop ini akan bergerak bersama-sama dengan senyawa yang ditumpanginya sesuai dengan dinamika senyawa tersebut di dalam tubuh. Dengan demikian, keberadaan dan distribusi senyawa tersebut di dalam tubuh yang mencerminkan beberapa fungsi organ dan metabolisme tubuh dapat dengan mudah diketahui dari hasil pencitraan. Pencitraan dapat dilakukan menggunakan kamera gamma. Radioisotop ini dapat pula digunakan untuk mencari jejak terjadinya infeksi bakteri, misalnya bakteri tuberkolose, di dalam tubuh dengan memanfaatkan terjadinya reaksi spesifik yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Terjadinya reaksi spesifik tersebut dapat diketahui menggunakan senyawa tertentu, misalnya antibodi, yang bereaksi secara spesifik di tempat terjadinya infeksi. Beberapa saat yang lalu di Pusat Radioisotop dan Radiofarmaka (PRR) BATAN telah berhasil disintesa radiofarmaka bertanda teknesium-99m untuk mendeteksi infeksi di dalam tubuh. Produk hasil litbang ini saat ini sedang direncanakan memasuki tahap uji klinis.
Dalam bidang kesehatan radioisotop digunakan sebagai perunut (tracer) untuk mendeteksi kerusakan yang terjadi pada suatu organ tubuh. Selain itu radiasi dari radioisotop tertentu dapat digunakan untuk membunuh sel-sel kanker sehingga tidak perlu dilakukan pembedahan untuk mengangkat jaringan sel kanker tersebut. Berikut ini adalah contoh beberapa radioisotop yang dapat digunakan dalam bidang kesehatan (Sutresna, 2007).

Beberapa Contoh Radioisotop dalam bidang kedokteran :
• I-131 Terapi penyembuhan kanker Tiroid, mendeteksi kerusakan pada kelenjar
            gondok, hati dan otak
• Pu-238 energi listrik dari alat pacu jantung

• Tc-99 & Ti-201 Mendeteksi kerusakan jantung

• Na-24 Mendeteksi gangguan peredaran darah

• Xe-133 Mendeteksi Penyakit paru-paru

• P-32 digunakan untuk pengobatan penyakit polycythemia rubavera, yaitu pembentukkan sel
  darah merah yang berlebihan.
Didalam penggunaannya P-32 disuntikkan ke dalam tubuh sehingga radiasinya yang memancarkan sinar beta dapat menghambat pembentukan sel darah merah pada sumsum tulang. Sedangkan, sinar gamma dapat digunakan untuk mensterilkan alat-alat kedokteran, sebelum dikemas dan ditutup rapat, misalnya pada proses sterilisasi alat suntik. Sebenarnya sebelum dikemas, alat suntik sudah disterilkan. Tetapi, pada proses pengemasan masih mungkin terjadi kontaminasi, sehingga setelah alat suntik tersebut dikemas dan ditutup rapat perlu dilakukan sterilisasi ulang dengan menggunakan sinar gamma (Sutresna, 2007).

 B.  Bidang Hidrologi
1.Mempelajari kecepatan aliran sungai.
2.Menyelidiki kebocoran pipa air bawah tanah.

 C.  Bidang Biologis
1. Mempelajari kesetimbangan dinamis.
2. Mempelajari reaksi pengesteran.
3. Mempelajari mekanisme reaksi fotosintesis.

 D.  Bidang pertanian 
1. Pemberantasan hama dengan teknik jantan mandul, contoh : Hama kubis
2. Pemuliaan tanaman/pembentukan bibit unggul, contoh : Padi
3. Penyimpanan makanan sehingga tidak dapat bertunas, contoh : kentang dan bawang.

 E.  Bidang Industri 
1. Pemeriksaan tanpa merusak, contoh : Memeriksa cacat pada logam
2. Mengontrol ketebalan bahan, contoh : Kertas film, lempeng logam
3. Pengawetan bahan, contoh : kayu, barang-barang seni
4. Meningkatkan mutu tekstil, contoh : mengubah struktur serat tekstil
5.. Untuk mempelajari pengaruh oli dan aditif pada mesin selama mesin bekerja.

 F.  Bidang Arkeologi
1. Menentukan umur fosil dengan C-14

 Bahaya Zat Radioaktif
Pencemaran zat radioaktif, pencemaran zat radioaktif adalah suatu pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh debu radioaktif akibat terjadinya ledakan reaktor-reaktor atom serta bom atom. Limbah radioaktif adalah zat radioaktif dan bahan serta peralatan yang telah terkena zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena pengoperasian instalasi nuklir yang tidak dapat digunakan lagi.  yang paling berbahaya dari pencemaran radioaktif seperti nuklir adalah radiasi sinar alpha, beta dan gamma yang sangat membahayakan makhluk hidup di sekitarnya. Selain itu partikel-partikel neutron yang dihasilkan juga berbahaya. Zat radioaktif pencemar lingkungan yang biasa ditemukan adalah 90SR penyebab kanker tulang dan 131J.
Apabila ada makhluk hidup yang terkena radiasi atom nuklir yang berbahaya biasanya akan terjadi mutasi gen karena terjadi perubahan struktur zat serta pola reaksi kimia yang merusak sel-sel tubuh makhluk hidup baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan atau binatang.
Efek serta Akibat yang ditimbulkan oleh radiasi zat radioaktif pada umat manusia seperti berikut di bawah ini : Pusing-pusing, Nafsu makan berkurang atau hilang, Terjadi diare, Badan panas atau demam, Berat badan turun, Kanker darah atau leukimia, Meningkatnya denyut jantung atau nadi.



Selasa, 05 Februari 2013

Expertaise Diagnostic



FOTO SCHEDEL

TS Yth.
Besar, bentuk tulang calvaria normal.
Tabula externa, interna dan diploe normal.
Vascular marking normal.
Sutura tak melebar.
Sella tursika normal.
Tak tampak garis lusent/fraktur.

Kesan: Schedel foto masih dalam batas normal.
Terima Kasih.


FOTO WATERS

TS Yth,
Sinus maxilaris kanan dan kiri terselubung.
Dinding anthrum tampak menebal.
Sinus frontalis, ethmoidalis dan sphenoidalis normal.
Septum nasi di tengah,cavum nasi tampak menyempit.
Kesan :
* Sinusitis maxilaris bilateral.
* Hipertrophy concha.
Terima kasih.


FOTO SINUS PARANASAL

TS Yth,
Sinus maxilaris kanan kiri normal.
Sinus  frontalis, ethmoidalis dan sphenoidalis normal.
Dinding anthrum tidak menebal.
Septum nasi ditengah, cavum nasi normal.

Kesan : Tak tampak tanda - tanda sinusitis.
Terima kasih.





FOTO CERVICAL

TS Yth,
Besar, bentuk dan struktur trabecula tulang vertebrae cervical normal.
Curve dan aligament normal.
Pedikle dan Discus intervertebralis normal.
Foramen intervertebralis cervical 2-3, 3-4 kiri sedikit menyempit.

Kesan : Penyempitan porament intervert Cervical 2-3,3-4 kiri.
Terima Kasih.



SHOULDER JOINT

TS Yth,
Besar, bentuk dan struktur trabecula shoulder joint normal.
Sela sendi dan permukaan sendi normal.
Tak tampak garis fraktur.

Kesan: Foto shoulder joint tak tampak fraktur.
Terima Kasih


FOTO THORAX

Thorax Normal
  
TS Yth,
Cor, Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo: Hili normal, corakan Paru normal.
            Tak tampak bercak infiltrate.

Kesan:  Cor dan pulmo dalam batas normal 
Terima Kasih.




Bronchitis Kronis

TS Yth,
Cor, Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo : Hili kasar,corakan Paru bertambah.
             Tak tampak  bercak infiltrate.

Kesan: Bronchitis Kronis.
Terima Kasih.


KP Aktif

TS Yth,
Cor, Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo: Hili kasar, corakan Paru bertambah.
            Tampak infiltrate di.

Kesan: KP Aktif.
Terima Kasih.


Bronchopneumonia

TS Yth,
Cor, Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo: Hili kasar, corakan Paru bertambah.
Tampak perbercakan infiltrate supra, perihiler  dan        paracardial.

Kesan: Bronchopneumonia.
Terima Kasih.


Cardiomegali
TS Yth,
Cor tampak membesar, sinuses dan diafragma normal.
Pulmo: Hili melebar degan corakan Paru bertambah.
            Tak tampak kranialisasi .
            Tak tampak bercak infiltrate.

Kesan: Cardiomegali tanpa bendungan paru.
Terima Kasih.

Cardiomegali

TS Yth,
Cor tampak membesar, Sinuses dan diafragma normal.
Pulmo: Hili kabur dgn corakan Paru bertambah.
            Tak tampak kranialisasi .
            Tampak bercak infiltrate di perihiler.

Kesan: Cardiomegali dengan oedema paru.
Terima Kasih.



FOTO ABDOMENT

TS Yth,
Pre peritoneal fat normal dan psoas line normal.
Kontur ginjal kanan dan kiri normal.
Skeletal tak tampak osteopit.
Distribusi udara dikolon normal dengan caliber normal.
Tak tampak konkremen opak disepanjang traktus urinarius.

Kesan: Tak tampak urolithiasis radioopaq.
Terima Kasih.



FOTO ABDOMENT


TS Yth,
Pre peritoneal fat normal dan psoas line normal.
Kontur ginjal kanan dan kiri normal.
Skeletal tak tampak osteopit.
Distribusi udara dikolon normal dengan kaliber normal.
Tampak concrement opak di abdpmen kanan atas.

Kesan: Nefrolithiasis kanan.
Terima Kasih.

FOTO BNO 3 Posisi

TS Yth,
Pre peritoneal fat normal dan psoas line kabur.
Kontur ginjal kanan dan kiri kabur.
Skeletal tak tampak osteopit.
Distribusi udara dikolon bertambah dan tampak udara mengisi usus halus dengan caliber melebar mengisi seluruh bagian abdomen. Pd posisi LLD dan tegak tampak minimal fluid level. Tak tampak free air

Kesan: Meteorismus dengan sub ileus .
Terima Kasih.



FOTO BNO IVP

TS Yth,
BNO : Tampak concrement opaq multiple di abdomen kiri atas.
IVP   :
- Fase nefrogram kedua ginjal normal.
- Ukuran ginjal kiri membesar, dan posisi kedua ginjal normal.
- Fase eksresi kedua ginjal tampak pada menit ke-5.
- Sistem pelviocalises  ginjal kanan tak melebar, kiri tampak melebar, tampak batu multiple pada ginjal kiri.
- Ureter kanan dan kiri  tak melebar, tak tampak   bendungan, tampak batu pada distal ureter kiri.
VU : Tak membesar, dinding  tampak reguler, tak tampak batu/filling defect.
PU  : Sisa kontras tampak di VU dan sistem pelviocalises kanan.

Kesan :
- Fungsi kedua ginjal normal.
- Nefrolithiasis  dg hidronefrosis kiri
Terima Kasih.


FOTO COLON IN LOOP

TS Yth,
Colon In loop :
Kontras domasukan melalui canul cateter, tampak kontras  dengan lancar mengisi rectosigmoid, kolon descendens, fleksura lienalis, colon transversum, fleksura hepatika, colon ascendens dan caekum.
Tampak kontras mengisi appendix dan tampak refluks mengisi illeum.

Pool Barium :
Besar, bentuk dan posisi colon normal, dinding reguler, tak tampak filling defect maupun indentasi.
Tak tampak tanda-tanda cut off maupun shoulder sign. Tampak redundance di daerah rektosigmoid.
Appendix tidak membesar, dinding normal, tak tampak kaku, tak tampak filling defect.

Kesan :
* Hasil pemeriksaan colon in loop tak tampak tanda- tanda massa maupun keganasan pada kolon.
* Tampak redundance pada daerah colon rektosigmoid.
* Appendix masih normal.
Terima Kasih.



FOTO THORACOLUMBAL

TS Yth,
Besar dan bentuk serta struktur trabecula tulang Vertebrae thoracolumbal normal.
Curve dan ligament normal.
Pedikel dan discus intervertebralis normal.
Foramen intervertebralis tidak menyempit.
Tampak osteofit pada Vertebrae thoracolumbal.
Kesan : Osteoarthirosis Vertebrae Thoracolumbal.
FOTO LUMBOSACRAL
TS Yth,
Besar , bentuk serta struktur trabecula tulang Vertebrae LS normal.
Curve normal, alignment normal.
Pedikel dan discus intervertebralis normal.
Foramen intervertebralis tidak menyempit.
Tak tampak osteofit pada C.Vertebralis Lumbalis

Kesan : Foto vertebra LS tak tampak kelainan..
Terima kasih.

                    MANUS                   
TS Yth,
Besar, bentuk dan struktur trabecula tulang manus normal.
Sela sendi dan permukaan sendi normal.
Tak tampak garis fraktur.
Kesan : Foto manus tak tampak kelainan.
Terima Kasih.
 FOTO WRIST JOINT
TS Yth,
Besar, bentuk dan struktur trabecula tulang wrist joint normal.
Sela sendi dan permukaan sendi normal.
Tak tampak garis fraktur.

Kesan : Foto Wrist joint tak tampak kelainan.
Terima Kasih.
           FOTO GENU
TS Yth,
Besar, bentuk dan struktur trabecula tulang genu normal. Sela sendi tidak meyempit, permukaan rata.
Tak tampak proses osleolporotk/litik, tak tampak osteofit. Tak tampak garis fraktur.
Kesan : Foto art genu masih dalam batas normal..


             FOTO CRURIS
TS Yth,
Besar, bentuk dan struktur trabecula tulang cruris normal.
Sela sendi dan permukaan sendi normal.
Tak tampak garis fraktur.
Kesan: Foto cruris tak tampak kelainan.
Terima Kasih.


                  FOTO PEDIS
TS Yth,
Besar, bentuk dan struktur trabecula tulang pedis normal.
Sela sendi normal, permukaan sendi rata.
Tak tampak garis fraktur maupun proses litik / sklerotik.
Jaringan lunak normal.
Kesan : Foto tulang pedis tak tampak kelainan.
Terima kasih.


CT SCAN KEPALA

      CT Scan Kepala / Normal
TS Yth,
Dilakukan CT Scan Kepala tanpa kontras potongan axial dengan ketebalan 5-10 mm dari basis sampai vertex.
Tak tampak lesi hipodens maupun lesi hiperdens intra parenchimal otak.
Sulci dan gyri  corticalis normal.Fissura interhemisphere dan sylvii normal. Cysterna ambiens dan basalis normal.
Ventricle lateralis kanan dan kiri tampak normal, ventricle III dan IV posisi dan ukuran normal.
Tak tampak midline shift.
Cerebelum, pons dan batang otak tak tampak kelainan.
Jaringan extra Calvarium dan tulang Calvarium tak tampak kelainan.
Kesan: CT Scan kepala saat ini tak tampak lesi patologis /SOL/Infark/Pendarahan intra parenchimal otak.
Terima Kasih.

TS Yth,
Dilakukan CT Scan kepala dan Orbita kiri dan kanan tanpa kontras potongan axial dengan ketebalan 3-10mm dari orbita, dan basis sampai vertex.
Tak tampak adanya massa intra orbita, dan retro orbital kiri dan kanan. N,Optikus kiri dan kanan normal.
Tak tampak lesi hipodens maupun lesi hiperdens intra parenchimal otak.
Sulci dan gyri corticalis normal. Fissura inter hemisphere dan sylvii normal.
Cysterna ambiens dan basalis normal.
Ventricle lateralis kanan dan kiri normal, ventricle III dan IV posisi dan ukuran normal,
Tak tampak midline shift.
Cerebelum dan pons batang otak tak tampak kelainan.
Jaringan extra calvarium dan tulang calvarium tak tampak kelinan.
Kesan:
* CT Scan kepala saat ini tak tampak lesi patologis/ SOL/infark/pendarahan intra parenchimal otak.
* Tak tampak fraktur tulang calvaria.
Terima Kasih.
TS Yth,
Dilakukan CT Scan kepala tanpa kontras potongan axial dengan ketebalan 5-10mm dari basis sampai vertex.
Tampak lesi hipodens yang meluas pada parenchimal otak di lobus temporoparietal kanan, terlihat pd 7 slice
Tak tampak lesi hiperdens pada parenchimal otak.
Sulcy dan gyri corticalis masih normal.
Ventricle lateral kanan dan kiri tak menyempit.
Ventricle III dan IV  sedikit menyempit.
Tak tampak penggeseran mid line Shift .
Jaringan extra calvaria dan tulang calvaria masih normal.
Kesan:
* CT Scan Kepala menunjukan adanya infark yang     meluas hampir seluruh hemisphere kiri (Lob Temporoparietal kanan) disertai oedema cerebri.
* Tak tampak adanya gambaran pendarahan intra cerebral.
Terima Kasih.
TS Yth.
Dilakukan CT Scan Kepala tanpa kontras potongan axial dengan ketebalan 5-10 mm dari basis sampai vertex.
Tak tampak lesi hipodens maupun lesi hiperdens intra parenchimal otak.
Sulci dan gyri  corticalis normal. Fissura interhemisphere dan sylvii normal.
Cysterna ambiens dan basalis normal. Ventricle lateralis III dan IV posisi dan ukuran normal.
Tak tampak midline shift.
Jaringan extra calvarium tak tampak pembengkakan.
Tulang calvarium tampak discontinuitas di daerah occipital kiri.
Kesan:
Tak tampak perdarahan intra cerebral/ subdural/epidural/maupun SAB.
Tampak fraktur tulang calvarium di daerah occipital kiri.
Terima Kasih.

CT Scan kepala KLL / Normal
 TS Yth.
Dilakukan CT Scan Kepala tanpa kontras potongan axial dgn ketebalan 5-10 mm dari basis sampai vertex.
Tak tampak lesi hipodens maupun lesi hiperdens intra parechimal otak.
Sulci dan gyri  corticalis normal. Fissura interhemisphere dan sylvii normal.
Cisterna ambiens dan basalis normal. Ventrikel lateralis kanan dan kiri normal, ventrikel III dan IV posisi dan ukuran normal.
Tak tampak midline shift.
Jaringan extra kalvarium tak tampak membengkak.
.
Tulang kalvarium tak tampak diskontinuitas
Kesan:
• Tak tampak perdarahan intra cerebral/subdural/ epidural/maupun SAB.
• Tak tampak fraktur tulang calvarium. 
Terima kasih.
TS Yth.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Dilakukan CT Scan Kepala tanpa kontras potongan axial dengan ketebalan 5-10 mm dari basis sampai vertex.
Tampak lesi hiperdens disertai gambaran hipodens disekitarnya pada daerah capsula interna kanan dengan diameter 4,18 X 2,79 cm dan HU 68,9 yang terlihat pada 4 Slice.
Tampak lesi hiperdens didaerah ventricle lateral kanan dan kiri.
Sulci dan gyri  corticalis normal. Fissura interhemisphere dan sylvii normal.
Cysterna ambiens dan basalis normal.
Ventricle lateralis III dan IV posisi dan ukuran normal.
Tak tampak midline shift.
Jaringan extra calvarium tak tampak pembengkakan.
Tulang calvarium tak tampak diskontinuitas.
Kesan: Hasil CT Scan menunjukan adanya perdarahan     intracerebral disertai perifocal oedema pada daerah capsula interna kanan dan tampak perdarahan intraventrikuler.
Terima Kasih.






TS Yth,
Dilakukan CT Scan Kepala tanpa kontras potongan axial dengan ketebalan 5-10 mm dari basis sampai vertex.
Tampak lesi hiperdens intra parenchim otak didaerah  periventriculer / capsula interna kanan dg HU:66,9   diameter 3,1cm X 3,48cm dan terlihat pd 6 slice  dengan bayangan  hipodens disekitarnya.
Ventricle lateralis kiri normal dan kanan tampak menyempit, ventricle III dan IV besar, bentuk dan posisi normal.
Fissura interhemisphere dan sylvii normal.
Cysterna basalis dan ambiens normal.Tak tampak midline shift.
Jaringan extra calvarium tak tampak membengkak dan tulang calvarium tak tampak garis fraktur.
Kesan: Tampak pendarahan intra cerebral di daerah  periventrikuler / capsula interna kanan disertai  dengan perifocal oedem.
Terima Kasih.


TS Yth,
Dilakukan CT Scan Kepala tanpa kontras potongan axial dengan ketebalan 5-10mm dari basis sampai vertex.
Tampak lesi hiperdens pada falk cerebri posterior .
Fissura interhemisphere dan sylvii normal.
Tak tampak mid line shift.
Ventricle lateral kanan normal, kiri normal.ventricle III dan IV normal.
Cerebellum dan batang otak normal.
Jaringan extra calvaria dan tulang calvaria normal.
Tak tampak diskontinuitas dari tulang calvaria.
Kesan:
* CT Scan kepala menunjukan gambar perdarahan minimal sub arachnoid di daerah falk cerebri posterior.
* Tak tampak fraktur tulang calvaria.
Terima Kasih.



 CT Scan Kepala Metastase


TS Yth,
Dilakukan CT Scan kepala dengan memakai kontras iomapamiro dengan potongan axial, ketebalan 3-10mm dari orbita, dan basis sampai vertex dengan hasil sbb :
Tak tampak adanya massa intra orbita, dan retro orbital kiri dan kanan.N.Optikus kiri dan kanan normal.
Tampak lesi hiperdens multiple dengan berbagai ukuran intra parenchimal otak di daerah cerebelum, sekitar pons, lobus occipital, temporal kanan dan kiri, parietal dan frontal dengan memberikan encshans pada pemberian kontras.
Tampak lesi hipodens disekitar lesi hiperdens dan daerah lob. occipital.
Sulci dan gyri corticalis masih normal.
Fissura inter hemisphere dan sylvii normal.
Cysterna ambiens dan basalis
Ventrikel lateralis III dan IV posisi dan ukuran normal.
Tak tampak midline shift.
Jaringan extra calvarium dan tulang calvarium tak tampak kelainan.
 
Kesan: CT Scan kepala menunjukan adanya gambaran multiple massa ( metastase intra cerebral ) dg infark dan oedema cerebri.
Terima Kasih.






CT SCAN THORAX



CT SCAN THORAX
dengan kontras

TS Yth :
Dilakukan CT Scan Thorax Kontras potongan axial dengan ketebalan 8 mm dengan hasil sbb:
Scanning window mediastinum :
- Truncus brachiocephalica, V,brachiocephalica, A.Carotis     dan A.sub clavia masih normal.
- Trachea masih ditengah.
- Tak tampak nodul-nodul hipodens disekitar trachea.
- Vena cava aorta ascendens dan aorta decendens masih normal.
- Cabang utama bronchus kanan dan kiri masih terbuka.
- Cor tidak membesar.
- Tampak jaringan fibrosis dengan penebalan pleura diatas dinding rongga thorax depan dan belakang kanan kiri.
- Tak tampak adanya massa hipodens / hiperdens.

Scanning window paru :
-    Tampak bercak infiltrat dengan fibrosis di lobus superior, segmen anterior dan posterior menempel pada pleura kanan dan kiri mulai segmen superior hingga inferior.
-    Tak tampak adanya massa pada lobus superior maupun inferior.

Kesan :
* Hasil CT Scan menunjukkan KP lama dengan terjadi Fibrosis dan penebalan pleura bilateral dengan atelektasis segmen apical kanan kiri.
* Tak tampak adanya massa pada paru maupun mediastinum.
Terima kasih.





CT SCAN THORAX
 tanpa kontras

TS Yth,
Dilakukan CT Scan Thorax dengan potongan axial ketebalan 10 mm tanpa memakai kontras dengan hasil sbb:
Scanning window mediastinum:
- Truncus brachiocephalica, V.brachiocephalica,
A. Carotis dan A. subclavia masih normal.
- Trachea masih ditengah.
- Vena cava, aorta ascendens dan aorta decendens masih normal.
- Cor  tidak membesar.
- Cabang utama bronchus kanan dan kiri masih terbuka.
- Tampak bayangan massa isodens yang berhubungan dengan mediastinum, yang berasal dari cabang anteropesterior broncus kanan.
Scanning window paru:
Tampak massa hipodens dengan bentuk spikula pada lobus medial paru kanan dengan minimal infiltrate di segment anterior.

Kesan: Massa pada paru kanan suggestiv malignancy.
Terima Kasih.



CT SCANABDOMEN


CT SCAN ABDOMEN
Tanpa kontras
TS Yth,
Dilakukan CT Scan abdomen tanpa kontras dengan ketebalan 8 mm dari SIAS sampai arcus pelvis:
Tampak bayangan isodens dengan batas kabur diantara uterus dan kandung kemih dengan ukuran 10,6 x 9,5cm, sebagian massa menonjol pada dinding kolon dan uterus.
Tak tampak adanya gambaran obstruksi pada kolon maupun usus halus.
Uterus :  Tak membesar, parenchim normal, tak tampaK massa intra uterus.
Kandung kemih : Tak membesar, tak tampak massa, dinding masih reguler.
Kesan :
- Hasil CT Scan menunjukkan massa diluar uterus dan kadung kemih. yang mengilfiltrasi dinding kolon dan menonjol pada uterus.
- DD/- Tumor Mescuterial.
- Ca Ovarium.
Terima kasih.


TS Yth,
Dilakukan CT Scan abdomen tanpa kontras potongan axial dengan ketebalan 10mm dengan hasil sbb:
Scanning Daerah:
Hepar :
tak membesar, tekstur parenchim normal, tak tampak massa, system vaskuler tak melebar, kandung empedu tak membesar. Tak tampak batu. Tak tampak asites.

Limpa :
tak membesar, textur parenchim normal, tak tampak massa. system vaskuler tak melebar.

Ginjal :


tak membesar, textur parenchim normal, tak tampak massa, system pelviocalites ginjal kiri tampak lebih melebar dibanding kanan. Tak tampak batu.

Scanning kolon / usus halus :
Tak tampak gambaran ileus obstruktif, dinding tampak irreguler menebal dibeberapa tempat. Tak tampak adanya massa yang menyumbat saluran cerna.

Kesan :
+ Suspect colitis dengan gambaran Chron's disease.
+ Tak tampak adanya massa yang menyumbat saluran kolon maupun usus halus.
+ tak tampak pembesaran kelenjar getah bening disekitar paraaorta.
Terima kasih.

CT SCAN ABDOMEN
Dengan Kontras

TS Yth,
Dilakukan CT Scan Abdomen dengan oral kontras dengan ketebalan 10 mm mulai dari hepar sampai arcus pelvis.
Scanning daerah:
Hepar:
Tidak membesar, densitas parenchim homogen.
Vena porta dan duktus biliaris intra hepatal tidak melebar.
Tak tampak massa / SOL.
Tak tampak bayangan hipodens diantara hepar dan diafragma kanan.
Kandung Empedu:
Tak membesar, dinding tak menebal, reguler, tak tampak batu / SOL.
duktus biliaris extra hepatal tak melebar.

Limpa:
Tak membesar, densitas parenchim homogen, vena lienalis tak melebar, tak tampak SOL.

Pankreas:
Tak membesar, parenchim homogen, duktus pankreaticus tak melebar, tak tampak SOL.

Ginjal:
Tak membesar, system pelviocalises tak melebar, densitas parenchim homogen, tak tampak batu / SOL.

Gaster:
Tampak membesar, dinding irreguler, tak tampak SOL.

Scanning massa:
Tampak bayangan massa pada dinding abdomen dan pelvis kiri dengan batas tegas dan sebagian massa tampak masuk ke rongga peritoneum. Tampak massa tersebut diluar ginjal kiri dan limpa serta usus besar / kolon. Diameter kolon masih normal, tak tampak tanda-tanda sumbatan / obstruksi.

Kesan: Tampak massa pd dinding abdomen bawah kiri yang sebagian masuk ke rongga peritoneum, susp tumor mesenterial.
Terima Kasih.

USG GINJAL

TS Yth,
Ginjal :
Tak membesar, tekstur parenchim normal. densitas gema normal, Batas tekstur dengan central echokompleks normal, System pelviokalises tak melebar, Tak tampak massa, Tak tampak bayangan hiperechoic dengan shadowing.
Ureter : tak terdeteksi
VU : Tak membesar, dinding tak menebal, tak tampak batu maupun massa.
Tak tampak asites di rongga pelvis.

Kesan :  kelainan.
Terima kasih,
USG WHOLE ABDOMENT

TS Yth,
Hepatobilier :
Hepar tak membesar, tekstur parenchim normal, permukaan rata, densitas gema normal, tak tampak massa. Vena porta dan vena hepatika tak melebar.

Kandung empedu :
Tak membesar, dinding tak menebal, tak tampak batu maupun massa / sludge.
Duktus biliaris intra dan extra hepatal tak melebar, tak tampak batu maupun massa.
Tak tampak asites.

Limpa :
Tak membesar, parenchim normal.
Tak tampak massa. Vena lienalis tak melebar.

Pankreas :
Tak membesar, tekstur parenchim normal, tak tampak kalsifikasi maupun massa. Duktus pankreatikus tak melebar.

Ginjal :
Tak membesar, tekstur parenchim normal.
Densitas gema normal, batas tekstur dengan central echokompleks normal, System pelviokalises tak melebar, tak tampak massa, Tak tampak bayangan hiperechoic dg shadowing.

Ureter : Tak terdeteksi.

VU :
Tak membesar, dinding tak menebal, tak tampak batu maupun massa.Tak tampak asites di rongga pelvis.

Kesan : USG Hepatobilier, limpa, pankreas, ginjal   kanan kiri, uterus dan VU tak tampak kelainan.
Terima kasih.




USG MAMAE(PAYUDARA)


TS Yth,
Inspeksi kedua mammae tampak membesar, tak tampak gambaran peau de orange, tak tampak reaksi peradangan.
USG :
Jaringan cutis dan sub cutis normal, jaringan fibroglanduler tampak menebal, jaringan lemak menebal.
Pd mammae kanan tampak bayangan massa hipoechoic , bentuk bulat dg dinding tegas reguler, ukuran sekitar 8 x 7mm sekitar 3cm diatas niple.
Pd mammae kiri tampak bayangan massa hipoechoic bentuk oval, ukuran sekitar 19 x 12mm, batas tegas. Tak tampak kalsifikasi.

Scanning axila kanan dan kiri tak tampak pembesaran kelenjar maupun massa.

Kesan :
* Massa pd mammae kanan dan kiri, sugestif benigna ( FAM ? )
* Tak tampak pembesaran kelenjar axila kanan maupun kiri

Terima kasih



TS Yth,

Uterus :
Tidak membesar, teksturparenchim normal, tak tampak bayangan kantung kehamilan dg gema janin, tak tampak massa hipo maupun hiperechoic . Endometrial line tidak menebal.
Adneksa kanan dan kiri normal, tak tampak massa kistik maupun padat, tak tampak koleksi cairan bebas.


Kesan :
* USG uterus dan adneksa tak tampak kelainan.
Terima kasih.



CT SCAN SINUS PARANASAL


TS Yth
Dilakukan CT Scan Sinus paranasal dg potongan coronal dan gagital tanpa memakai kontras dg hasil sbb :

Sinus maksilaris, frontalis, ethmoidalis dan spheniodalis cerah.
Dinding antrum tampak menebal.
Sepum nasi tampak menebal, sedikit deviasi di bagian posterior.
Concha nasalis kanan tampak menebal.
Tak tampak perselubungan massa maupun fluid level.

Kesan :
* Hipertropi concha kanan dan septm nasi.
* Tak tampak tanda2 sinusitis.

Terima kasih,



USG WHOLE ABDOMEN

Ts. yth.
Kandung empedu dengan ukuran normal, tak tampak bayangan batu/ penebalan dinding kandung empedu.
Hepar dengan echostruktur homogen, tak tampak bayangan nodule/ massa. Percabangan vena porta dan hepatis dapat diikuti. Color flow pembuluh2 intrahepatis dalam batas normal. Permukaan hepar rata, sudut runcing, tak membesar.
Lien tak membesar, echostruktur homogen.
Pancreas dengan echostruktur normal, tak tampak pelebaran d. pancreaticus.
Vesica urinaria besar, bentuk dan  mukosa normal, tak tampak bayangan batu.
Prostate dalam batas normal.
Perbandingan cortex dan medulla ke 2 ginjal dalam batas normal, tak tampak pelebaran collecting sistim maupun bayangan hyperechoic + shadowing.
Pada abdomen kanan bawah tampak bayangan tubuler, hypoechoic, blind-ended, non compressible dengan diameter 1,23 cm.
Kesan: Suspek appendicitis.
Terima kasih.


ANKLE JOINT
Ts.Yth
Besar, bentuk dan struktur trabekula normal.
Tak tampak garis fraktur / proses osteoporotik / Iytik.

Kesan : Tak tampak kelainan yang jelas pada ankle joint.
Terima kasih.

Pelvis :
Tulang- tulang Pelvis dalam batas normal.
Facies dan cavum artikulari coxe kanan kiri normal.
Garis-garis Schenton dan Skinner normal.

Kesan : Tak jelas kelainan pada foto Pelvis.


Elbow Joint :
Tulang-tulang sekitar siku normal. Facies dan cavum artikulare normal.
Tak tampak garis fraktur.

Kesan : Tak tampak kelainan yang jelas pada elbow.
Terima kasih.
ANTEBRACHI
Ts.Yth
Tulang-tulang sekitar siku normal.
Facies dan cavum artikulare normal. Tak tampak garis fraktur.

Kesan : Tak tampak kelainan yang jelas pada antebrachi.
Terima kasih.

TERAUMA TUMPUL ABDOMEN :
USG whole abdomen:
Kandung empedu dengan ukuran normal, tak tampak bayangan batu/ penebalan dinding kandung empedu.
Hepar dengan echostruktur homogen, tak tampak bayangan nodule/ massa/ hematoma. Percabangan vena porta dan hepatis dapat diikuti. l. Permukaan hepar rata, sudut runcing, tak membesar. Sudut hepatorenal tak tampak bayangan cairan.
Lien tak membesar, echostruktur homogen. Tak tampak hematoma.
Pancreas dengan echostruktur normal, tak tampak pelebaran d. pancreaticus.
Vesica urinaria besar, bentuk dan  mukosa normal, tak tampak bayangan batu.
Prostate dalam batas normal. Cavum Douglass tak tampak cairan.
Perbandingan cortex dan medulla ke 2 ginjal dalam batas normal, tak tampak pelebaran collecting sistim maupun bayangan hyperechoic + shadowing. Tak tampak hematoma perirenal.
Kesan: Tak tampak tanda2 perdarahan intra peritoneal..
Terima kasih

THORACOLUMBAL :
TS Yth,
Besar dan bentuk serta struktur trabecula tulang Vertebrae thoracolumbal normal.
Pedikel dan discus intervertebralis normal. Alignament normal. Kyphose thoracal dan lordose lumbal normal

Kesan : Tak jelas kelainan pada foto Thoracolumbal vert.
Terima kasih.